Oleh: Marten Rachmanto “)
Setiap tanggal 1 Mei, dunia memperingati Hari Buruh Internasional sebagai simbol perlawanan dan solidaritas kelas pekerja. Namun, di tahun 2026 ini, perayaan May Day terasa lebih getir. Eskalasi konflik di Timur Tengah yang melibatkan poros Amerika Serikat, Israel, dan Iran tidak lagi sekadar menjadi berita di kolom internasional, melainkan telah menjelma menjadi “hantu” yang mencekik leher para buruh di seluruh penjuru bumi.
Ketegangan geopolitik ini menciptakan efek domino yang meluluhlantakkan stabilitas ekonomi global. Ketika rudal ditembakkan dan sanksi ekonomi dijatuhkan, bukan para elite politik yang pertama kali merasakan dampaknya, melainkan buruh pabrik di Jember, kurir logistik di Jakarta, hingga pekerja manufaktur di Eropa.
Inflasi dan Keruntuhan Daya Beli
Perang di kawasan Teluk, yang merupakan jantung energi dunia, secara otomatis memicu lonjakan harga minyak mentah. Bagi buruh, kenaikan harga BBM adalah awal dari malapetaka. Biaya logistik membengkak, harga bahan pokok meroket, namun upah tetap stagnan. Di titik inilah, perjuangan buruh untuk “Upah Layak” menjadi semakin jauh dari panggang api.
Tokoh buruh legendaris asal Amerika Serikat, Eugene V. Debs, pernah berujar:
“Kelas pekerja tidak pernah memiliki suara dalam mendeklarasikan perang, namun kelas pekerja selalu menjadi pihak yang harus bertempur dan mati di dalamnya.“
Pernyataan Debs yang disampaikan seabad lalu ini masih sangat relevan. Buruh di dunia hari ini memang tidak memegang senjata di garis depan, namun mereka “mati” secara perlahan melalui inflasi yang menghancurkan daya beli keluarga mereka.
Disrupsi Rantai Pasok dan Ancaman PHK
Keterlibatan Amerika Serikat dalam menyokong logistik perang dan ancaman penutupan Selat Hormuz oleh Iran telah mengganggu jalur perdagangan global. Komponen industri yang tersendat mengakibatkan pabrik-pabrik di negara berkembang mengurangi kapasitas produksi. Akibatnya? Gelombang PHK massal menjadi solusi pahit yang diambil perusahaan.
Sharan Burrow, mantan Sekretaris Jenderal Konfederasi Serikat Buruh Internasional (ITUC), dalam salah satu pidatonya sering mengingatkan:
“Tidak ada perdamaian tanpa keadilan sosial, dan tidak ada keadilan sosial tanpa pekerjaan yang layak.”
Perang Amerika-Israel-Iran hari ini telah merampas hak atas “pekerjaan yang layak” tersebut. Dana publik yang seharusnya dialokasikan untuk jaminan sosial dan perlindungan buruh, justru dialihkan oleh negara-negara besar untuk membiayai mesin-mesin perang.
Solidaritas di Tengah Perpecahan
Dampak psikologis dari ketegangan Iran-Israel juga menciptakan polarisasi di tempat kerja. Isu agama dan sentimen politik global seringkali memecah persatuan serikat buruh. Padahal, musuh sejati buruh bukanlah rekan kerja yang berbeda pandangan politik, melainkan sistem ekonomi yang mengeksploitasi krisis demi keuntungan segelintir orang.
Kita perlu mengingat kembali pesan Karl Marx yang menjadi fondasi gerakan buruh:
“Buruh di seluruh dunia, bersatulah!”
Dalam konteks hari ini, seruan itu harus dimaknai sebagai ajakan untuk menuntut penghentian perang. Buruh dunia harus menyadari bahwa peluru yang ditembakkan di Timur Tengah dibayar dengan keringat mereka melalui pajak dan kenaikan harga pangan.
Penutup
Peringatan May Day 2026 harus menjadi momentum bagi gerakan buruh internasional untuk menyuarakan perdamaian. Tanpa perdamaian, semua capaian hak buruh selama berabad-abad dapat runtuh dalam hitungan hari akibat ambisi geopolitik. Dampak perang Amerika-Israel-Iran adalah bukti nyata bahwa nasib buruh di dunia, saat ini terikat erat dengan stabilitas di Teheran, Tel Aviv, dan Washington. Sudah saatnya suara buruh menjadi penentu arah kebijakan dunia: Pangan, bukan peluru. Upah, bukan bom!.
*) Penulis adalah mantan wartawan yang saat ini menjadi pegiat ekonomi kreatif



