Rabu, Juli 8, 2026
spot_img

DIKSI UPDATE

Di Bawah Ranjang Bambu, Harapan Itu Akhirnya Datang

Diksi.co.id, Jember-Langit Jember menggantung kelabu pada Rabu, 7 Juli 2026. Angin musim kemarau bertiup kering, menyapu jalan-jalan desa di Kecamatan Pakusari. Di sebuah rumah kecil berdinding anyaman bambu, waktu seolah berhenti.

Rumah itu hanya sekitar tiga meter persegi. Di dalamnya, Ny Suwana menghabiskan hari-harinya seorang diri.

Perempuan yang lahir pada Juli 1954 itu tak lagi mampu melihat. Kedua matanya gelap. Tubuhnya pun lumpuh. Ia tak dapat bangun dari pembaringan, bahkan untuk memenuhi kebutuhan paling dasar sebagai manusia.

Di bawah ranjang tempat ia berbaring, keluarga membuatkan saluran kecil. Selokan itu menjadi satu-satunya cara agar perempuan lanjut usia tersebut dapat membuang hajat tanpa harus berpindah dari tempat tidurnya.

Tak ada suami. Tak ada anak. Hidupnya bergantung pada kasih sayang sepupu dan keponakan yang tinggal tak jauh dari rumahnya. Mereka bergantian mengantar makanan dan minuman agar perempuan renta itu tetap bertahan menjalani hari.

Pemandangan itu mengusik nurani Aditya Algozalie, Sekretaris PAC PDI Perjuangan Kecamatan Pakusari.

Ketika mengetahui Ny Suwana belum memiliki Kartu Tanda Penduduk elektronik, Aditya segera berinisiatif menghubungi Pemerintah Kecamatan Pakusari. Baginya, selembar kartu identitas bukan sekadar dokumen administrasi. Tanpa identitas itu, akses terhadap bantuan sosial maupun layanan kesehatan yang menjadi hak warga negara sulit diperoleh.

“Miris melihat kehidupan Bu Suwana. Selama ini makan dan minumnya dipenuhi oleh keponakan dan sepupunya. Beliau hidup sebatang kara dalam kondisi lumpuh dan buta,” kata Aditya.

Camat Pakusari dengan Sekertaris dan pengurus PAC PDIP Kecamatan Pakusari, Jember.

Respons pemerintah kecamatan datang lebih cepat dari yang ia bayangkan.

Camat Pakusari, Riswandi, tidak hanya mengirim petugas untuk melakukan perekaman KTP elektronik di rumah Ny Suwana. Ia memilih datang sendiri. Bersamanya hadir Bidan Desa Subo, Wiwik, serta sejumlah staf kecamatan.

Mereka membawa lebih dari sekadar perangkat administrasi. Beberapa paket sembako ikut diturunkan dari kendaraan yang berhenti di depan rumah sederhana itu.

Setelah melihat langsung kondisi Ny Suwana, Riswandi meminta Bidan Wiwik melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala setiap bulan. Ia juga berkomitmen menyalurkan bantuan sembako setiap tiga bulan sebagai bentuk kepedulian terhadap warganya yang hidup dalam keterbatasan.

Bagi Aditya, kehadiran pemerintah hari itu bukan hanya menyelesaikan urusan administrasi kependudukan.

Ia melihat seorang warga yang selama bertahun-tahun nyaris tak tersentuh pelayanan publik, akhirnya didatangi oleh negara.

“Saya senang Pak Camat dan Bidan Wiwik bergerak cepat menangani persoalan ini. Bahkan Pak Camat juga berjanji akan memberikan bantuan sembako setiap tiga bulan,” ujarnya.

Di rumah kecil yang nyaris luput dari perhatian itu, perubahan memang belum menghapus lumpuh, kebutaan, ataupun kesunyian yang menemani hari-hari Ny Suwana. Namun, setidaknya, pada pagi yang berawan itu, ada satu hal yang akhirnya datang mengetuk pintu rumahnya, yakni perhatian.

Latest Posts

spot_img
spot_img

DIKSI POPULER