Diksi.co.id Banyuwangi – Konfercab PDI Perjuangan telah usai digelar di Shangri-La Hotel, Surabaya, 20-21 Desember 2025 kemarin.
Acara sempat diwarnai dengan walk outnya pengurus yakni dari mayoritas KSB Pengurus Anak Cabang (PAC) se-Banyuwangi.
Walk out tersebut disebabkan oleh penolakan terhadap dipilihnya Ana Aniati oleh DPP sebagai Ketua DPC PDI Perjuangan Banyuwangi.
Sugeng Munarso, salah satu kader Banteng yang pernah menjabat sebagai Sekretaris DPC PDI Perjuangan menyampaikan pandangannya bahwa jabatan Ketua DPC terpilih hari ini rentan atau berpotensi mengalami krisis legitimasi.
“Ketua terpilih berpotensi atau rentan sekali mengalami krisis legitimasi. Ini bisa dilihat dari banyaknya penolakan di hampir mayoritas PAC yang mengikuti konfercab, yang artinya secara politik ini rentan,” jelasnya.
Sugeng juga menambahkan, ada berbagai potensi resiko yang dapat dialami partai ke depan, yang tentunya akan merugikan partai di kemudian hari.
“Kondisi seperti ini punya resiko terhadap kerja-kerja politik kedepan, terutama berkaitan dengan proses konsolidasi organisasi, dimana tingkat spirit kawan-kawan PAC maupun Ranting bisa sangat rendah, yang mengakibatkan agenda penting partai tidak akan selesai tepat waktu,”ujarnya.
“Kemudian, dinamika yang terjadi hari ini dapat berujung pada dampak terhadap persiapan partai dalam menyambut gelaran pesta demokrasi beberapa tahun kedepan. Dan kalau partai saja tidak siap akibat peliknya dinamika di internal, kemudian bagaimana dengan rakyat? Padahal esensi dari berpartai adalah mewujudkan kesejahteraan kepada rakyat,” tuturnya.
Selaku kader, Sugeng berharap DPP PDI Perjuangan untuk mengkaji kembali penunjukan Ana Aniati sebagai ketua DPC PDI Perjuangan. Diduga ditunjuknya Ana Aniati sebagai ketua DPC itu atas rekomendasi sang penguasa.
“Ana Aniati menjadi ketua itu tidak legitimasi, sebab saat Konfercab dia ditolak oleh 90 persen peserta Konfercab,” tandasnya.
Sugeng mengungkapkan, perlu diingat, tugas ketua DPC itu sangat berat, mobilitasnya sangat tinggi, tidak mengenal lelah, apalagi, Ana Aniati di PDI Perjuangan Banyuwangi itu pendatang baru, dan loyalitasnya terhadap partai belum teruji.
“Mimpin partai itu tidak sama dengan mimpin Ormas. Dan ketua terpilih itu harus mendapat dukungan dari PAC. Faktanya 22 PAC dari 25 PAC menolak Ana Aniati jadi ketua DPC, mendapat dukungan yang minim, apakah duku seperti ini dijadikan rujukan menjadi ketua DPC,” ungkapnya.
Untuk menjadi ketua, setidaknya memenuhi tiga aspek, yakni aspek demokrasi, aspek organisasi, dan aspek aspirasi.
“Kalau membicarakan masalah aspek demokrasi dia ditolak oleh mayoritas PAC, jika ditinjau dari segi aspek organisasi dia pernah berbuat apa di Partai, begitu juga ditinjau dari aspek aspirasi dia itu dipilih mewakili aspirasinya siapa? Aspirasinya PAC-PAC lha wong mayoritas PAC menolak, ini fakta lho,”bebernya.
Sugeng menambahkan, selama empat periode, DPC Perjuangan Banyuwangi berhasil mendudukkan calon bupati dan wakil bupati Banyuwangi, menjadi bupati dan wakil bupati, apa yang didapat partai, apakah bupati dan wakil bupati terpilih yang diusung PDI Perjuangan membantu menaikan elektabilitas?, Kemenangan di empat periode Pemilu di Banyuwangi atas kerja keras seluruh kader PDI Perjuangan Banyuwangi, sedangkan sang penguasa hanya duduk manis melihat kader PDI Perjuangan Banyuwangi berdarah-darah berjibaku menaikan suara partai.
“Jangan pernah lupakan suara kader-kader murni mu sendiri, karena suara kader di tingkat terbawah pun adalah representasi dari suara rakyat yang nyata,” tutupnya.(Gim)



