Diksi.co.id, Jember | Kehadiran M Thamrin di PMI Cabang Jember tidak memberi manfaat apapun terhadap lembaga kemanusiaan tersebut. Betapa tidak sejak memimpin PMI Cabang Jember pria berkaca mata itu tidak membuat terobosan sama sekali bahkan menjadi beban.
Thamrin malah membuat berbagai blunder atau kesalahan. Setiap kebijakan yang diputuskannya selalu berdampak buruk pada internal dan masyarakat.
Salah satu warisan inovasi kebijakan para ketua pendahulunya adalah layanan fogging. Pengkabutan di sarang nyamuk sering diminta masyarakat saat musim serangan demam berdarah di musim hujan.
Penghentian fogging tak berbayar ini makin meneguhkan pendapat publik bahwa pria bergaya lemah lembut namun temperamen itu telah mendzolimi dan menyusahkan masyarakat

Pelayanan fogging oleh relawan maupun staf PMI Cabang Jember selama ini sangat membantu Pemkab Jember mencegah serangan demam berdarah yang sering merengut korban jiwa.
Ketika layanan fogging gratis, banyak masyarakat yang mengajukan permintaan fogging. Layanan ini banyak diminati masyarakat karena relawan maupun staf PMI Cabang Jember selalu merespon cepat setiap laporan atau permintaan dari warga.
Sayangnya, begitu kepengurusan M Thamrin sejak 2022, pelayanan fogging langsung dihentikan. Padahal, saat itu permintaan fogging dari masyarakat cukup banyak.
“Saya ikut mengajukan fogging akhir tahun 2022 tetapi tidak dilayani. Surat yang kami kirim juga tidak ada balasan,” kata Bagus, salah satu tokoh masyarakat di wilayah Sumbersari Jember, Rabu (2/7/2025).
Alasan ketiadaan anggaran selalu didengungkan oleh kepengurusan M. Thamrin. Dalih lainnya aktifitas kemanusiaan yang terlah bertahun-tahun dinantikan warga, dianggap bukan bidang dari lembaga yang dipimpinnya tersebut.
Keputusan sableng lainnya yang telah dilakukan Thamrin adalah menutup layanan Klinik Pratama PMI di Jubung, yang sebelumnya menjadi pusat pelayanan kesehatan penting dan bagian dari visi jangka panjang mendirikan rumah sakit PMI di Jember.
Penutupan klinik ini menunjukkan kurangnya niat pengurus baru untuk melanjutkan atau mengembangkan pelayanan kesehatan inovatif, termasuk fogging, yang selama ini membantu pencegahan Demam Berdarah di wilayah tersebut.
Tak heran, kini muncul kritikan keras masyarakat. Aep Ganda Permana salah seorang pengamat kebijakan publik menilai keputusan ini sebagai langkah yang merugikan masyarakat karena menurunkan pelayanan PMI secara signifikan. Termasuk menghentikan pelayanan mobil jenazah gratis.
“Penurunan pelayanan kesehatan dan pembubaran klinik menunjukkan bahwa kebijakan kepengurusan Thamrin cenderung mengurangi program-program inovatif yang sejatinya dibutuhkan masyarakat bukannya memberi solusi, malah mendzolimi,” ujarnya.(guh/ary)



