Kamis, Juni 4, 2026
spot_img

DIKSI UPDATE

Ratusan Ribu Warga Jember Suka BAB Sembarangan

Diksi.co.id, Jember | Publik mengenal Kabupaten Jember adalah salah satu kota yang sering disebut kota pendidikan karena berdiri perguruan tinggi negeri hingga swasta. Namun ternyata masih banyak warganya yang buang air besar sembarangan yang mencerminkan perilaku tak terdidik dan tidak sehat.

Mereka BAB di tempat terbuka seperti di halaman belakang rumah, sungai, parit, maupun saluran irigasi.

Perilaku sebenarnya salah satu faktor penyebab masih ada ribuan warga yang harus BAB tidak di jamban. Ada faktor ekonomi yang membuat mereka tidak memiliki WC atau fasilitas MCK (mandi cuci kakus)

Berdasarkan data Dinas kesehatan Jember saat ini ada 132.567 dari 733.623 keluarga di Kabupaten Jember saat ini buang air besar (BAB) di tempat sembarangan atau Open Defaciation Free (ODF) karena tidak memiliki jamban atau WC.

Keluarga ODF tersebut tersebar di 187 desa dan kelurahan bari 248 desa dan kelurahan di Jember. Dari data itu 601.058 keluarga yang sudah memiliki jamban untuk BAB.

Dari 31 kecamatan hanya ada satu kecamatan saja yang mempunyai akses jamban seratus persen, yakni Kecamatan Wuluhan.

Para rapat dengar pendapat Komisi D DPRD Jember dengan beberapa mitra kerjanya salah satunya Dinas Kesehatan Pemkab Jember terungkap ada lebih dari 130 ribu keluarga masih BAB tidak di jamban.

Menurut Plt Kepala Dinas Kesahatan Jember Koes Har Yudhiarto saat rapat dengar pendapat dengan Komisi D, Selasa siang (31/1/2023) jumlah desa yang masih ODF hanya 24 persen.

“Persentase desa yang sudah ODF (Open Defecation Free atau Buang Air Besar Sembarangan) 24 persen dan warga yang sudah memiliki akses sanitasi 81 persen,” kata Koes Har Yudhiyarto.

Tingginya angka ODF ini membuat bupati harus menerbitkan keputusan untuk membentuk tim pelaksana hingga tingkat desa tahun lalu. Tim ini berisi banyak unsur baik dari TNI, Polri, dan organisasi kemasyarakatan.

Tim tersebut telah melakukan pertemuan untuk mangatasi permasalahan ODF.
“Dari rembuk itu ditemukan pemecahan masalah,” katanya.

Keluarga yang tidak memiliki jamban karena kondisi ekonomi akan dibuatkan dengan melakukan penggalangan dana.

Sedangkan untuk menanggulangi permasalahan kebiasaan atau perilaku, tim akan gencar melakukan penyuluhan
“Penyuluhan dilakukan untuk merubah perilaku masyarakat agar mereka sadar menggunakan jamban atau tidak buang air besar sembarangan,” kata Koeshar.(rc)

 

Latest Posts

spot_img
spot_img

DIKSI POPULER