Diksi.co.id Lumajang – Tokoh masyarakat Lumajang, Arsyad Subekti mendesak Pemkab Lumajang memprioritaskan Penerangan Jalan Umum (PJU). Dampak minimnya PJU, diduga salah satu faktor maraknya akai kejahatan jalanan.
Menurut Arsyad, dirinya menduga maraknya aksi kejahatan di kabupaten Lumajang itu salah satu pemicunya adalah minimnya.
“Akhir-akhir ini di kabupaten Lumajang marak adanya aksi kriminalitas. Selain faktor ekonomi, salah satunya adalah kurangnya PJU,” ungkap Arsyad, Rabu (13/5/2026)
“Seharusnya, Pemkab Lumajang memprioritaskan PJU. Keberadaan PJU itu sangat penting, selain bisa menekan angka kriminalitas, juga menekan angka kecelakaan lalu-lintas,” imbuhnya.
Dari pantauannya, warga mengeluhkan kondisi jalan yang gelap minim penerangan. Keluhan serupa juga banyak disampaikan masyarakat lewat media sosial.
“Tentu yang disampaikan warga ini harusnya menjadi masukan bagi pihak yang berwenang untuk melakukan langkah konkret, misalnya penambahan fasilitas penerangan jalan umum atau bagaimana agar jalan-jalan di Kabupaten Lumajang terlihat terang,” ungkapnya.
Disisi lain Arsyad menegaskan, keamanan lingkungan merupakan tanggung jawab bersama, bukan hanya aparat. “Keamanan lingkungan tidak bisa dibebankan semata kepada aparat kepolisian. Menjaga ketertiban dan kondusivitas wilayah membutuhkan peran aktif seluruh elemen masyarakat,” jelasnya.
Menurutnya, aparat bertugas menegakkan hukum dan menangani gangguan kamtibmas. Namun jumlah personel terbatas, sementara cakupan wilayah dan kompleksitas persoalan terus berkembang. “Tanpa dukungan kita bersama, upaya pencegahan kejahatan tidak akan maksimal,” tuturnya.
Ia menambahkan, masyarakat punya peran strategis sebagai garda terdepan, mulai dari mengaktifkan kembali siskamling, melaporkan aktivitas mencurigakan, hingga membangun kepedulian antar-tetangga. “Budaya gotong royong dan komunikasi yang baik di tingkat RT/RW menjadi deteksi dini paling efektif sebelum masalah membesar,” katanya.
Selain itu, pengembang, pelaku usaha, dan sekolah juga berperan menciptakan lingkungan aman. Penerangan jalan, pemasangan CCTV, hingga edukasi hukum dan kewaspadaan ikut menekan potensi tindak kriminal.
“Singkatnya, keamanan adalah ekosistem. Aparat bertindak sebagai penindak dan pengayom, sedangkan warga menjadi mata dan telinga. Ketika keduanya bersinergi, rasa aman yang nyata bisa dirasakan bersama,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Teknik Prasarana Dishub Lumajang Hari Subagiyo, mengatakan pihaknya langsung melakukan langkah cepat. Perbaikan dilakukan pada PJU yang rusak menyusul maraknya aksi kriminalitas belakangan ini. “Dengan maraknya kejadian begal akhir-akhir ini langkah antisipasi, kita langsung mengecek semua PJU yang ada. Yang mati kita langsung perbaiki dan tahun ini kita juga akan memasang PJU baru sekitar 250 tiang PJU,” terangnya.
Hari mengakui kebutuhan PJU di Lumajang masih sangat besar, mencapai 19 ribu tiang. “Banyak sekali kekurangannya. Dari data kami sekitar sembilan belas ribuan kebutuhan kita. Yang terpasang sekarang ini paling sekitar lima belas persen sampai dua puluh persen,” terangnya.
Hari mengungkapkan jika penerangan jalan umum dari Wonoreja ke Ranuyoso sampai batas Probolinggo sekarang ini dalam kondisi baik dan itu milik Dishub Lumajang.
“Yang dari Wonoreja sampai Ranuyoso semua nyala dan itu adalah PJU kita meski itu di jalan nasional. Itu sudah dibangun lama waktu itu dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) dilimpahkan ke kita. Disitu malah tidak ada PJU milik nasional. Tapi untuk Wonorejo-Jatiroto sampai batas Jember itu memang ada beberapa yang kosong (Tidak ada PJUnya – red), tapi PJU kita ada 150 PJU dan itu kita rawat semua. Kondisi sekarang yang mati – mati itu punya Propinsi sama punya Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD) Pemerintah Pusat yang ada di Surabaya, ” pungkasnya. (Ach)



