Jumat, Juni 5, 2026
spot_img

DIKSI UPDATE

Al-Qur-an Raksasa Karya Warga Binaan, Jadi Primadona Lapas Banyuwangi

Diksi.co.id Banyuwangi – Menakjubkan , warga binaan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Banyuwangi tadarus memakai Al-Qur’an raksasa. Al-Qur’an berukuran 1 meter itu memang dikhususkan untuk kegiatan bulan Ramadhan.

Menariknya lagi, Al-Qur’an raksasa ini, dibuat oleh tiga warga binaan, yang dulunya tidak bisa membaca dan menulis huruf Al-Qur’an. Berkat kerja sama dengan pengrajin kaligrafi profesional, tiga warga binaan ini dibimbing dan diajari seni kaligrafi, hingga terciptanya Al-Qur’an berukuran 1 meter ini, yang menghabiskan 350 lembar kertas, serta beberapa spidol snowman.

Ket Foto : Warga binaan Lapas Kelas IIA Banyuwangi ketika menggelar tadarus memakai Al-Qur’an raksasa karya tiga warga binaan Lapas Banyuwangi. (Diksi.co.id/Ist)

Kepala Lapas (Kalapas) Banyuwangi, I Wayan Nurasta Wibawa, untuk menyelesaikan al-aur’an ini, memakan waktu selama 10 bulan. Awal dimulainya menulis pada bulan Ramadhan tahun lalu.

“Penulis Al-Qur’an ini awalnya tidak bisa membaca dan menulis huruf Al-Qur’an, berkat bimbingan dan arahan dari pengrajin seni kaligrafi profesional, alhamdulillah mereka (tiga warga binaan) mampu merampungkannya, dan terciptalah mahakarya yang luar biasa ini,” kata I Wayan Nurasta Wibawa, Jumat (6/3/2026)

Yang perlu diperhatikan, kata I Wayan Nurasta adalah akurasi ayat yang menjadi prioritas utama. Sebelum Al-Qur’an dipublikasikan atau dipergunakan, terlebih dahulu diteliti keakuratannya oleh Pondok Pesantren Nur Cahaya Tarbiyatul Qur’an

“Sebelum Al-Qur’an itu dijilid, telebih dahulu diperiksa setiap huruf dan harakatnya. Setelah melalui proses tashih dan pemeriksaan ulang, dan dinyatakan sudah benar baruslah dijilid. Bahkan proses penjilidannya dilakukan dua kali, untuk memastikan tampilan fisik dan kerapiannya,”ujarnya.

“Saya mengucapkan terimakasih kepada Ponpes Nur Cahaya Tarbiyatul Qur’an, yang turut membantu terciptanya Al-Qur’an ini,” imbuhnya.

Sementara, Moch Chanafi salah satu dari tiga penulis mengaku sangat bangga mampu menulis Al-Qu’an. Ia menceritakan dirinya bersama dua rekannya menyelesaikan penulisan kitab suci ini selama 10 bulan.

Menurutnya, penulisan kalam ilahi jumbo ini sarana refleksi dan pendewasaan spiritual yang sangat berharga, dan tak akan terlupakan.

“Kalau saya ditanya apakah bangga, ya bangga lah. Tapi kebanggaan ini saya hadiahkan kepada Kalapas dan seluruh petugas Lapas Banyuwangi, yang telah memberi motivasi serta semangat hingga selesainya penulis alquran 30 juz ini,” ungkapnya.

Moch Chanafi mengaku, setiap menulis satu ayat dikertas ini, dirinya sangat meresapi kandungan ayat tersebut, untuk diterapkan jika nanti dirinya kembali kemasyarakat. Jujur dengan menulis Al-Qur’an inj dan mengerti kandungao, saya menjadi lebih sabar dan lebih meresapi nilai-nilai luhur dari setiap ayat yang saya goreskan,” ungkap Chanafi sambil menarik nafas dalam-dalam.

Kini, Al-Qur’an raksasa tersebut menjadi jantung kegiatan religi di Lapas Banyuwangi. Keberadaannya bukan sekadar simbol kreativitas, melainkan representasi semangat hijrah dan transformasi positif para warga binaan dalam menjemput masa depan yang lebih baik. (Lin)

Latest Posts

spot_img
spot_img

DIKSI POPULER