Oleh : Aries Harianto, S.H.,M.H.,C.Med *)
Sembari menghisab kreteknya, Bung Karno duduk di teras rumah. Mengenakan sarung abu-abu. Dipadu kaos oblong cap sapu. Warnanya kusam tak lagi putih. Bersandar di kursi tua. Beralas anyaman rotan dengan kaki kayu jati tua coklat kehitaman. Entah apa yang dipikirkan. Wajahnya nampak capek. Tidak sumringah seperti biasanya. Keningnya sesekali mengernyit. Pandangannya jauh. Sorot matanya menyimpan sesuatu. Terpancar carut marut ragam problema dalam pikirannya. Seolah terlintas rasa kecewa, namun tak kuasa memecahkannya. Terbesit banyak hal yang hendak disampaikan, namun tak mampu untuk mengucapkan. Secangkir kopi pahit menemani tapi Bung Karno tetap menikmati.
Fulan: Mengapa Bapak tidak nampak gembira. Bukankah hari ini adalah momentum peringatan kemerdekaan RI ke 80 ?
Bung Karno: Kalau gembira itu sesuatu yang seharusnya, namun tidak cukup alasan bagiku untuk mewujudkannya. Kegembiraan tidak bisa dipaksakan. Bahagia bukanlah seolah-olah. Gembira dan bahagia melahirkan euforia sebagai fakta. Fakta merupakan akibat. Tidak bisa direkayasa. Sementara kejujuran merupakan musabab sekaligus fondasi dalam hidup dan kehidupan. Termasuk kehidupan berbangsa dan bernegara karena kemerdekaan seharusnya menjadi fakta. Bukan realitas di dunia maya.
Fulan: Memang ada apa dengan kemerdekaan di negeri ini, Bapak ?
Bung Karno: 80 tahun sudah NKRI berdiri. Delapan dasawarsa kita merdeka. Namun kemerdekaan itu hanya indah sebagai fiksi, tidak sebagai fakta. Tidak aku duga, negeri ini sedemikian rupa. Korupsi merajalela. Banyak pejabat terkikis rasa malu dan rasa bersalah.
Rakyat jelata patungan membeli bendera kertas. Kemudian sorak gembira melepas antusias. Di gang-gang kumuh dan perumahan mereka tertawa. Menggelar aneka lomba dan karnafal apa adanya. Sementara pejabat menggunakan uang negara melakukan upacara menatap khidmat kirab bendera.
Utang negara terus membubung tinggi, susu dan asupan bergizi untuk merawat generasi tidak terbeli. Gemuruh jargon cinta tanah air melebihi dahsyatnya sound horeg, namun yang ada dalam pikirannya justru kehendak pokok ‘wetengku wareg’.
Pejabat tak cakap memahami konstitusi. Tanpa beban melontarkan ujaran, semua tanah milik negera, katanya. Setiap jengkal nafas rakyat dipajaki hingga prosesi ketika mati. PBB dinaikkan ugal-ugalan. Tidak rasional. Rakyat terjungkal. Khalayak emosional. Pemimpin tak lagi dihujat tapi dilawan karena tak pantas jadi pejabat.
Negeriku kini tak lebih menjadi pentas immoral. Pejabatnya pandai beretorika, namun tak cerdas menguasai suasana. Wakil rakyatnya terampil berbicara, namun terjebak transaksi merampok uang negara. Inlander terus merasa lapar, menyaksikan ambtenar liar bertindak kriminal. Jangan sampai kejadian di Pati, membuat negeri ini menjadi pati geni. Semua harus menghindari agar demokrasi tidak pindah haluan menjadi rakyat menuntaskan masalah dengan caranya sendiri.
Fulan: Lantas apa yang harus dilakukan untuk menuntaskan problem kebangsaan kini dan mendatang, Bapak ?
Bung Karno: Aku sangat tahu diri. Aku tidak akan intervensi. Jamanku sudah lewat. Keberadaanku tak lagi lekat amanat. Aku hanya mengelus dada. Prihatin terus menggedor batin. Tanggungjawabku terikat ruang dan waktu.Tak ada dasar pembenar turut mengendalikan perahu, meskipun aku tak bisa membisu. Biarkan daulat demokrasi berjalan tanpa cawe-cawe diarahkan.
Fulan: Apakah tidak berlebihan kalau sementara orang mengatakan bahwa dewasa ini cukup banyak pejabat tak ubahnya pencuri teriak maling, sementara rakyat menjadi objek eksploitasi melalui bujuk rayu yang tajam menyayat seperti sembilu ?
Bung Karno:: Semua panutan tak ubahnya berhala. Disembah hanya untuk prosesi, setelahnya ditinggal pergi. Memilih panutan yang lurus hati seperti mencari jarum dalam tumpukan jerami. Problematika panutan tidak menutup kemungkinan pada gilirannya jargon Indonesia Emas, menjadi Indonesia Cemas.
Fulan: Jika demikian, terus bagaimana upaya mencari panutan itu, Bapak ?
Bung Karno: Panutan di jaman sekarang tidak lagi menunjuk persona. Panutan kompas berbangsa kini ada di tempat-tempat ngopi. Karena itu seringlah ngumpul untuk nongki. Apapun yang terjadi dengan bangsa ini, renungkan, cermati dan ajak teman-temanmu untuk ngopi. Lantas dengarkan, petuah patriotisme Iwan Fals. Dalam Sumbang judul lagunya, Iwan Fals melantunkan : ‘ ….lusuhnya kain bendera di halaman rumah kita, bukan satu alasan untuk kita tinggalkan…., Banyaknya persoalan yang datang tak kenal kasihan, menyerang dalam gelap……
Fulan: Lho, bukankah maniak kopi saat ini sudah tidak mudah lagi menikmati lantunan semua penyanyi karena dibebani royalty ?
Bung Karno: Hwakakakaak…….(sontak Bung Karno ngakak namun tak kehilangan argumentasi untuk menjawab. Hanya saja jawaban itu tidak terdengar jelas karena ditelan Sound Horeg)
*) Penulis adalah akademisi, kolumnis media dan Ketua Dewan Pakar ICMI Jember



