Diksi.co.id, Jember | Aji mumpung dan tidak tahu diri predikat yang disematkan oleh pengamat kebijakan publik Aep Ganda Permana kepada Ketua PMI Cabang Jember Mohammad Thamrin dan jajaran pengurusnya. Bukan tanpa dasar, Thamrin yang dikenal dekat dengan mantan Bupati Hendy Siswanto itu, selama menjadi ketua lebih mementingkan kesejahteraan dirinya dan pengurus dari pada pegawai.
Sebagai buktinya menurut Aep, pada awal tahun 2025, gaji pegawai PMI Cabang Jember hanya mengalami kenaikan minimal, sekitar Rp 30 ribu sampai Rp 50 ribu, sementara kenaikan gaji pengurus justru signifikan, hingga 100 persen. Kondisi ini menunjukkan ketimpangan yang cukup mencolok di internal PMI Jember.
“Gaji pegawai tetap berpatokan pada standar lama yang belum diperbarui selama lebih dari satu dekade, jauh tertinggal dari kenaikan biaya hidup dan pendapatan besar yang diperoleh dari pengelolaan darah serta berbagai donasi di daerah tersebut,” jelas Aep, Jumat (1/8/2025).

Pria yang berprofesi sebagai pengacara ini kemudian memaparkan, gaji pokok karyawan PMI Jember di dasarkan PP nomor 22 tahun 2013. Padahal PP tersebut mengalami perubahan 4 kali yakni PP No. 30 Tahun 2015, PP No. 15 Tahun 2019, dan terakhir PP No. 5 Tahun 2024 tentang Perubahan Ketujuh Belas Atas Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1977 Tentang Peraturan Gaji Pegawai Negeri Sipil.
“Padahal pada tahun 2013 harga darah masih Rp 250.000 per kantong dan tahun 2024 harga darah naik menjadi Rp 490.000 per kantong. sedangkan gaji karyawan tidak ada penyesuaian,” paparnya.
“Dengan harga Rp 490 ribu tiap kantong dengan perolehan rata-rata 3.500 katong tiap bulan maka pendapatan PMI cabang Jember berada dalam kisaran Rp 1,7 miliar. Sepantasnya ada penyesuaian gaji karyawan PMI Jember yang disesuaikan dengan PP No. 5 Tahun 2024,” katanya menambahkan.
Hal ini dirasakan sangat miris karena darah yang dikelola PMI adalah produk sosial kemanusiaan yang penting, namun kesejahteraan pegawai yang bekerja di balik layanan ini belum mendapatkan perhatian layak.
Di sisi lain, Ketua PMI Kabupaten Jember diketahui mendapat gaji di atas Rp 10 juta per bulan, sementara pegawai di tingkat bawah hanya mendapatkan gaji kecil yang sangat minim kenaikannya. Standar gaji pegawai pemerintah yang dijadikan acuan sudah usang sehingga tidak mencerminkan nilai pendapatan sebenarnya dari pengelolaan darah dan dana sosial di PMI Jember.
Kondisi ini menimbulkan kebutuhan mendesak untuk evaluasi dan penyesuaian gaji pegawai PMI agar sesuai dengan keadaan sekarang dan beban kerjanya. Khususnya dengan kenaikan harga darah yang signifikan demi kelangsungan pelayanan transfusi darah yang aman dan berkualitas di wilayah Jember.
Tanpa penyesuaian ini, motivasi dan kesejahteraan pegawai PMI bisa terus terpinggirkan walaupun organisasi mencatat pendapatan besar dari harga darah dan donasi masyarakat.
Aep Ganda permana, juga mengatakan kebijakan yang ada saat ini justru mempertegas buruknya kepemimpinan Thamrin.
“Ini ironis sekali. Yang saya dengar pengurus sebelumnya banyak sekali mengangkat pegawai honor menjadi pegawai tetap dan menyamakan standar gaji pegawai UDD dan Markas PMI. Lah sekarang malah bikin kebijakan hanya berpihak kepada pengurus saja,” ujarnya.
Salah seorang pegawai PMI Cabang Jember membenarkan jika gaji yang diterimanya sangat berbanding terbalik dengan gaji pengurus. Tidak hanya itu kepangkatan dan golongan seolah tidak dipakai, Thamrin memimpin PMI seperti mengelola toko kelontong.
“Gaji yang kami terima memang terasa kecil dibandingkan Lembaga pemeirntah. Hierarki kepangkatan dan golongan kayaknya gak jelas. Ada pegawai yang baru masuk golongannya tinggi sedangkan saya yang sudah belasan tahun tidak berubah,” kata seorang pegawai PMI Cabang Jember yang tidak mau disebutkan namanya.
Dia berharap saat kepengurusan baru dipimpin M Thamrin ada kenaikan signifikan.
“Tenryata yang naik signifikan hanya pengurus saja yang besar sekali. Sedangkan kami hanya naik kisaran Rp 30 ribu sampai 50 ribu saja,” ujarnya.
Saat ditanya apakah layak Thamrin diusulkan untuk diganti, pegawai tersebut mengatakan kalau itu demi kebaikan bersama kenapa tidak dilakukan. Namun demikian pergantian ketua bukan ranah dirinya untuk memberikan usulan.
“Saya cuma pegawai mas. Tapi setiap pergantian ketua para pegawai ini punya harapan besar terutama terkait kesejahteraan. Termasuk saat Pak Thamrin terpilih untuk menjadi ketua, kami para pegawai ini berharap PMI Cabangn Jember lebih baik, dengan gaji lebih meningkat karena harga darah kini jauh lebih tinggi,” pungkasnya.(guh/ary)



