Diksi.co.id Malang – Pertumbuhan ekonomi ditingkat Nasional maupun daerah sangat penting. Pertumbuhan ekonomi ini tidak terlepas dari penyaluran kridit kepada pengusaha, baik itu pelaku Usaha, Kecil, Mikro dan Menengah (UMKM), pedagang besar maupun pedagang eceran untuk mengembangkan usahanya.
Untuk di wilayah Sekarkijang, pelaku UMKM mendominasi sebesar 52,43 persen, dibandingkan dengan pedagang besar dan sektor rumah tangga (konsumsi), hal ini diungkapkan Kepala Bagian Pengawasan Perilaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, Pelindungan Konsumen dan Layanan Manajemen Strategis OJK Jember, Inggita Mawarsih Puspitasari dalam acara Gathering di Malang, Kamis (18/9/2025).
“Diwilayah Sekarkijang, pelaku UMKM masih mendominasi kridit, sebesar 52,43 persen,”kata Inggita Mawarsih Puspitasari.
Inggita menjelaskan, penyaluran kridit di wilayah Sekarkijang Kabupaten Jember masih mendominasi dibandingkan dengan Kabupaten lainnya yang ada di wilayah Sekarkijang.
Secara rinci, Inggit sapaan akrab Inggita Mawarsih Puspitasari memaparkan, penyaluran kridit itu melalui bank umum dan Bank Perkreditan Rakyat (BPR). Di Jawa Timur per 31 Juli 2025 sesuai data OJK, realisasi Kridit Usaha Rakyat (KUR) sebesar 81,89 triliun, sedangkan di Sekarkijang sebesar 13,20 triliun.
“Penyaluran kridit, Kabupaten Jember masih tertinggi, dibandingkan dengan Kabupaten lainnya yang ada di wilayah Sekarkijang,”paparnya.
Menurut Inggit, meski pertumbuhan kridit perbankan menurun daripada tahun sebelumnya. Namun Dana Pihak Ketiga (DPK) di perbankan justru mengalami peningkatan.
Di tahun 2025 ini, penyaluran kridit kepada pelaku usaha, baik itu kepada UMKM, pedagang eceran, dan pedagang besar di wilayah Jember, Banyuwangi Bondowoso, Situbondo dan Lumajang (Sekarkijang) mengalami penurunan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Secara rinci sambung Inggit, penyaluran kridit di bank-bank umum per 31 Juli 2025 yakni untuk Kabupaten Jember sebesar 44.67 persen atau Rp 21’64 triliun mengalami kenaikan dibandingkan ditahun 2024 sebesar Rp 21,15 triliun, terbesar kedua kabupaten Banyuwangi 29,23 persen atau Rp 14,16 triliun mengalami kenaikan dibandingkan tahun 2024 sebesar Rp 14,09 triliun.
“Tidak hanya kabupaten Jember dan Banyuwangi saja yang mengalami kenaikan, kabupaten Situbondo, Bondowoso, dan Lumajang juga mengalami trend yang sama, meskipun tidak sebesar Jember dan Banyuwangi,” terangnya.
Data OJK per 31 Juli menunjukkan, 5 sektor yang mempengaruhi pertumbuhan kridit di wilayah Sekarkijang, yakni pedagang besar dan eceran menduduki peringkat pertama sebesar 26,79 persen, disusul pertanian dan kehutanan 24,89 persen, bukan lapangan usaha dan lainnya 15,55 persen, real estate 6,98 persen, kontruksi 6,22 persen dan lainnya 19,58 persen.
Agar pertumbuhan ekonomi terus meningkat, peran OJK Jember sangat penting, maka diperlukan koordinasi untuk meningkatkan literasi dan inklusi keuangan dalam wadah terpadu yaitu Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPKAD). TPKAD ini bertujuan untuk meningkatkan peran Lembaga Jasa Keuangan (LJK).
“Peran LJK ini, untuk menunjang Pengembangan Ekonomi Daerah (PED) melalui pengembangan unggulan suatu daerah,”kata Inggit.
Inggit mengingatkan kepada masyarakat agar tidak terjebak dengan Pinjaman Online yang tidak berijin.
” Kalau ada pinjol yang menawarkan kridit, nasabahnya disuruh mengirimkan data diri, hingga mengirimkan lokasinya, tinggalkan saja, itu Pinjol ilegal,”pungkasnya. (tut)



