Kamis, Juni 18, 2026
spot_img

DIKSI UPDATE

PT BSI Lestarikan Adat, Budaya Dan Kearifan Lokal Masyarakat Nelayan

Diksi.co.id Banyuwangi – Kehadiran pelaku investasi PT Bumi Suksesindo (PT BSI) bukan hanya membawa manfaat dalam percepatan pembangunan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat Banyuwangi, Jawa Timur, saja. Namun juga mampu hadir pada momentum pelestarian adat, budaya dan kearifan lokal masyarakat nelayan setempat.

Ya, salah satu bukti nyata adalah dalam perayaan tradisi petik laut yang digelar masyarakat pesisir Lampon, Desa Pesanggaran, Kecamatan Pesanggaran, pada Selasa, 16 Juni 2026 lalu. Disitu, anak perusahaan PT Merdeka Copper Gold Tbk, memberikan bantuan guna kelancaran acara yang digeber bertepatan dengan tanggal 1 Suro tersebut.

Community Development Superintendent PT BSI Amirrul Darmawan menyebut bahwa bantuan sengaja diberikan sebagai wujud dukungan terhadap upaya masyarakat dalam pelestarian adat istiadat dan kearifan lokal. Menurutnya, bidang sosial budaya merupakan salah satu pilar utama program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) pertambangan.

“Jadi, program sosial PT BSI tidak melulu soal ekonomi atau infrastruktur. Kami juga memperhatikan pelestarian adat istiadat dan kearifan lokal seperti petik laut ini,” katanya, Rabu (17/6/2026).

Sebagai bentuk penghargaan dan kepedulian, sejumlah perwakilan manajemen operator tambang emas di Gunung Tumpang Pitu, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, itu juga hadir. Mereka berbaur dengan jajaran Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyuwangi, Forpimka Pesanggaran, para tokoh, nelayan serta masyarakat.

Terlebih dalam pelaksanaan, animo masyarakat sangat tinggi. Bahkan warga luar Pesanggaran turut berdatangan untuk menyaksikan langsung perhelatan petik laut Lampon. Ribuan manusia tumpah ruah memadati lokasi kegiatan.

Amirrul Darmawan bercerita, kegiatan diawali dengan doa bersama yang dipimpin tokoh agama setempat. Usai doa bersama, acara dilanjutkan dengan larung sesaji.
Sesaji ditempatkan dalam sebuah perahu yang dihias khusus. Beragam hasil bumi, hasil tangkapan laut, hingga kepala sapi ditempatkan di atas perahu pembawa sesaji. Ada juga janur kuning yang dibentuk menjadi penjor dan rumbai-rumbai.

Perahu yang membawa sesaji tersebut kemudian dilepas menuju laut selatan pantai Lampon. Masyarakat yang menyaksikan, berebut mengabadikan momen sakral tersebut.

Salah satu tokoh masyarakat Lampon, Suharsono, mengatakan bahwa tradisi petik laut di pantai Lampon telah dilaksanakan sejak 1927. Hingga kini, petik laut telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat nelayan.

“Tradisi ini bukan sekadar acara tahunan, melainkan warisan leluhur yang memiliki nilai sejarah, budaya, dan kebersamaan yang sangat tinggi. Sampai hari ini, masyarakat masih menjaga dan melestarikannya dengan penuh rasa tanggung jawab,” ujar Suharsono.

Makna seluruh rangkaian prosesi sangat dalam. Larung sesaji bukanlah bentuk pemujaan, melainkan simbol ungkapan rasa syukur masyarakat kepada Allah SWT atas limpahan anugerah hasil laut yang menjadi sumber penghidupan warga pesisir. Sekaligus tolak bala, agar para nelayan diberi keselamatan saat mencari ikan dilaut lepas.

“Masyarakat nelayan menyadari bahwa seluruh hasil laut yang diperoleh merupakan karunia dari Tuhan Yang Maha Esa. Karena itu, melalui petik laut kami memanjatkan doa sebagai bentuk rasa syukur sekaligus memohon keselamatan bagi para nelayan yang setiap hari mencari nafkah di laut,” jelasnya.

Suharsono menegaskan bahwa keberhasilan pelaksanaan petik laut tidak lepas dari semangat gotong royong masyarakat nelayan pantai Lampon yang masih sangat kuat hingga saat ini dan dukungan para pemangku kepentingan.

“Mulai dari pembuatan perahu larung, penyusunan sesaji, hingga pelaksanaan acara, semuanya dilakukan bersama-sama. Semangat guyub rukun inilah yang menjadi kekuatan utama masyarakat pantai Lampon sehingga tradisi ini mampu bertahan selama puluhan tahun,” bebernya.

Lebih jauh, Suharsono menyebut petik laut menjadi momentum penting untuk mempererat hubungan sosial antar warga. Tradisi ini mampu menyatukan seluruh elemen masyarakat tanpa memandang usia maupun latar belakang. Menurutnya, kebersamaan menjadi modal sosial yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat pesisir.

“Petik laut mengajarkan bahwa keberhasilan dan kesejahteraan tidak bisa diraih sendiri. Semua harus dilakukan dengan kebersamaan, saling membantu, dan menjaga persaudaraan antar warga,” ungkapnya.

Dia berharap generasi muda dapat terus menjaga dan melestarikan tradisi yang telah menjadi identitas masyarakat pesisir Banyuwangi tersebut. Selain memiliki nilai budaya dan spiritual, petik laut pantai Lampon juga berdampak positif terhadap sektor pariwisata dan perekonomian masyarakat.

Kehadiran wisatawan membawa berkah bagi pedagang, pelaku UMKM, hingga masyarakat sekitar.

“Banyak pedagang dan pelaku usaha kecil yang merasakan manfaat dari ramainya pengunjung saat petik laut berlangsung,” jelas Suharsono.

Apresiasi terhadap pelaksanaan petik laut Lampon juga disampaikan Plt. Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Banyuwangi, Hartono. Dia menilai kekompakan masyarakat pantai Lampon menjadi kunci utama tetap lestarinya tradisi yang telah berlangsung selama puluhan tahun tersebut.

“Kami sangat bangga kepada masyarakat nelayan pantai Lampon yang tetap guyub rukun menjaga dan melestarikan tradisi warisan leluhur ini. Semangat kebersamaan seperti inilah yang membuat budaya Banyuwangi tetap hidup dan berkembang hingga sekarang,” kata Hartono.

Petik laut Lampon, lanjutnya, tidak hanya menjadi kekayaan budaya daerah, tetapi juga berpotensi menjadi magnet wisata yang mampu memperkuat citra Banyuwangi sebagai daerah yang kaya akan tradisi dan kearifan lokal.

“Saya optimistis tradisi Petik Laut Lampon akan terus lestari dan menjadi kebanggaan Banyuwangi untuk generasi-generasi mendatang,” tandasnya. (Lin)

Latest Posts

spot_img
spot_img

DIKSI POPULER